Pelaksanaan Program KKN Tematik UNDIP di Desa Laban, Mojolaban

Desa sering dijadikan latar romantik pada kegiatan pengabdian. Hal ini dikarenakan desa dianggap ramah, sederhana, dan katanya “penuh potensi”. Nyatanya, di balik itu semua, problem klasik tetap sama, sampah rumah tangga menumpuk, namun dengan sistem pengelolaan yang minim. Kondisi inilah yang menjadi titik masuk pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Diponegoro Tahun 2026 di Desa Laban, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.

Melalui Tim Kandelake 42 – KKN Tematik Tim 42 UNDIP Tahun 2026, sebanyak 23 mahasiswa yang terdiri dari 11 mahasiswa dan 12 mahasiswi dari berbagai jurusan diterjunkan langsung ke lapangan. Bukan untuk “mengamati sambil foto-foto”, para mahasiswa ini diterjunkan untuk mengintervensi masalah nyata dengan pendekatan teknologi tepat guna. Tema yang diusung cukup lugas, yakni “Optimalisasi teknologi terkini dalam pengelolaan sampah di Desa Laban, Kecamatan Mojolaban.”

Tema ini tidak muncul dari angan-angan. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, lebih dari 50 persen sampah di Indonesia merupakan sampah organik rumah tangga. Desa Laban memiliki karakteristik konsumsi serupa, banyak sisa dapur (SOD), dedaunan, dan limbah organik lain mendominasi. Masalahnya, sistem pengelolaan masih mengandalkan buang dan bakar. Murah, cepat, tapi merusak lingkungan dan berulang tanpa ada solusi.

Tim Kandelake 42 memilih pendekatan praktis, aplikatif, dan bisa dilanjutkan warga. Tidak ada ceramah panjang yang biasanya hilang bersamaan dengan hilangnya spidol sehabis dipakai. Program dirancang dengan prinsip sederhana, 1) Bisa dilakukan skala rumah tangga. 2) Biayanya masuk akal. 3) Hasilnya terlihat.

Ada tiga program utama menjadi tulang punggung kegiatan KKN Tematik ini.

  1. Biopori Skala Rumahan sebagai Solusi Sampah Organik

Program pertama adalah pengelolaan sampah organik menggunakan biopori skala rumahan. Biopori dipilih karena relevan dengan kondisi desa yang memiliki lahan pekarangan relatif luas. Lubang resapan biopori memungkinkan sampah organik diurai langsung di tanah, sekaligus meningkatkan daya serap air dan kualitas tanah.

Pelaksanaan dilakukan secara langsung di rumah warga. Hasil konkret program biopori:

  • 4 unit biopori berhasil ditanam di lahan Bapak Harno
  • 2 unit biopori ditanam di lahan Ibu Yayuk

Lokasi-lokasi tersebut dipilih berdasarkan kesediaan warga dan potensi keberlanjutan penggunaan. Pendekatan ini sejalan dengan konsep pembangunan partisipatif, di mana keberhasilan program sangat bergantung pada keterlibatan pemilik lahan.

Secara ekologis, biopori membantu mengurangi volume sampah organik harian. Secara sosial, metode ini mudah direplikasi oleh warga lain tanpa ketergantungan pada pihak luar. Itu poin penting yang sering gagal dipahami dalam banyak program pengabdian.

  1. Optimalisasi Teknologi Maggot (Black Soldier Fly)

Program kedua menyasar teknologi yang lebih “advance” namun tetap realistis, yaitu pengelolaan sampah organik menggunakan maggot Black Soldier Fly (BSF). Larva BSF dikenal mampu mengurai sampah organik dengan cepat dan efisien, serta menghasilkan produk turunan bernilai ekonomi seperti pakan ternak.

Alih-alih dikelola individu, sistem maggot di Desa Laban diarahkan untuk pengelolaan kolektif.
Hasil utama program maggot:

  • Bibit maggot diserahkan kepada PKK RW 1 untuk dikelola Bersama

Dalam struktur sosial desa, PKK merupakan kelompok yang relatif stabil, aktif, dan memiliki jaringan kerja yang jelas. Banyak Riwayat aktivitas pemberdayaan masyarakat membuktikan bahwa program berbasis kelompok perempuan cenderung lebih berkelanjutan, terutama untuk pengelolaan lingkungan dan ekonomi rumah tangga.

Dengan sistem ini, sampah organik yang awalnya hanya dipahami sebagai “masalah”, kini berubah menjadi sumber daya. Ini logika ekonomi sederhana.

  1. Optimalisasi Usaha Briket dari Limbah Arang Gamelan

Program ketiga menyentuh aspek ekonomi kreatif desa, yakni optimalisasi usaha briket dari limbah arang gamelan. Limbah arang yang sebelumnya tidak termanfaatkan diolah kembali menjadi produk bernilai jual.

Tim Kandelake 42 tidak berhenti pada konsep produksi, tetapi masuk ke tahap teknis dan pemasaran.
Hasil nyata program briket:

  • Pembuatan alat pemotong dan alat pengering briket
  • Penyusunan materi promosi, mulai dari konten media sosial hingga strategi pemasaran ekspor

Pendekatan ini penting karena banyak usaha desa gagal bukan di produksi, tetapi di hilir, misalnya alat tidak efisien dan pemasaran lemah. Dengan intervensi ini, usaha briket tidak hanya berhenti berorientasi pada pasar local saja, tetapi mulai diarahkan ke pasar yang lebih luas.

  1. Penumbuhan Kesadaran Sejak Dini tentang Pemilahan dan Pengolahan Sampah

Program keempat justru menyasar akar masalah yang sering diabaikan, yakni pola pikir sejak usia dini. Tanpa perubahan perilaku, teknologi sebaik apa pun akan berhenti saat program selesai.

Mahasiswa KKN Tematik Tim 42 melaksanakan edukasi pengelolaan sampah kepada siswa SDN Laban 1. Materi yang diberikan mencakup:

  • pemilahan sampah organik dan anorganik,
  • dampak sampah terhadap lingkungan,
  • cara sederhana mengelola sampah sejak dari rumah dan sekolah.

Pendekatan edukasi disesuaikan dengan usia siswa, menggunakan metode interaktif dan visual agar mudah dipahami. Program ini penting karena pembiasaan perilaku lingkungan paling efektif dilakukan pada usia sekolah dasar. Banyak penelitian pendidikan lingkungan menunjukkan bahwa intervensi dini menghasilkan perubahan perilaku jangka panjang, bukan sekadar pengetahuan sesaat.

Dengan menyasar anak-anak, program ini berfungsi sebagai investasi sosial. Anak-anak tidak hanya menjadi penerima materi, tetapi juga berpotensi menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga mereka

Selama pelaksanaan KKN Tematik, warga dilibatkan sejak awal, mulai dari penentuan lokasi, pengelolaan, hingga penerimaan hasil program.

Secara konseptual, kegiatan ini sejalan dengan pendekatan community-based waste management, di mana masyarakat menjadi aktor utama pengelolaan lingkungan. Pendekatan ini relevan diterapkan di Desa Laban karena struktur sosialnya masih kuat dan memungkinkan kerja kolektif.

Apakah seluruh persoalan sampah Desa Laban selesai? Tidak. Namun, KKN Tematik Tim Kandelake 42 telah meletakkan fondasi sistem, bukan sebatas kegiatan seremonial. Biopori tertanam, maggot dikelola, usaha briket diperkuat, anak-anak teredukasi. Dengan begitu, harapannya ada jejak yang tersisa setelah mahasiswa pulang.

KKN Tematik UNDIP Tahun 2026 di Desa Laban menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat tidak harus sok heroik atau penuh ide-ide diluar nalar. Cukup paham masalah, pilih teknologi yang masuk akal, dan serahkan kendali ke warga. Sisanya tinggal konsistensi.